Dosen Unimal dan Petani Teupin Reusep Gaungkan Slogan “Ganja vs Gaharu”

Senin, 15 September 2025 21:16
Pengabdian dosen Unimal yang didanai dalam program BIMA. (Foto: Ist/WartaAceh.com)

ACEH UTARA – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh (Unimal) bersama masyarakat Desa Teupin Reusep, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, mencanangkan slogan “Ganja vs Gaharu” pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung, Sabtu (30/8/2025).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan ekonomi masyarakat tani yang berdomisili di daerah bekas lahan ganja melalui pelatihan produksi gaharu, dengan skema pemberdayaan berbasis masyarakat. Program tersebut didanai oleh Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) tahun 2025.

Ketua tim pelaksana, Dr Lukman, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Pengabdian ini kami lakukan untuk membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraan tanpa harus terjebak lagi dalam praktik ilegal seperti menanam ganja,” ujarnya.

Menurut Lukman, pilihan beralih ke gaharu bukan tanpa alasan. “Desa Teupin Reusep adalah daerah endemik tanaman gaharu dengan kualitas terbaik. Jika dikelola serius, gaharu bisa menjadi pengganti ekonomi yang lebih menjanjikan dibanding ganja,” tambahnya.

Pelatihan yang digelar mencakup penyadaran tentang risiko menanam ganja serta bahaya mengonsumsi narkotika.

“Kami tidak hanya mengajarkan teknik produksi, tapi juga memberi pemahaman bahwa hidup lebih bermartabat bisa dicapai dengan usaha yang halal,” jelas Dr Setia Budi sebagai anggota tim.

Materi pelatihan disampaikan secara teori dan praktik langsung di kebun masyarakat. Peserta diajarkan mulai dari pemilihan bibit unggul, teknik inokulasi, perawatan, pemanenan, pasca panen, hingga pembibitan.

“Target kami, petani mampu menghasilkan gubal gaharu berkualitas ekspor,” kata Dr Nelly Fridayanti.

Kegiatan tersebut diikuti 34 petani anggota kelompok tani Alen Lestari yang diketuai Junaidi. Para peserta mengaku antusias dengan pengetahuan baru yang mereka peroleh.

“Selama ini kami tahu ganja itu dilarang, tapi belum ada alternatif jelas. Sekarang kami melihat gaharu bisa jadi peluang nyata,” ungkap Junaidi.

Selain dosen, enam mahasiswa Fakultas Pertanian Unimal juga ikut membantu pelaksanaan kegiatan, yaitu Muhammad Rinaldi Ario Seno, Wilda Akmalita, Fanny Rinaldy, Fuadi Ajmi, Muhammad Chairuddin, dan Dini Ananta. Kehadiran mereka mempermudah jalannya pelatihan.

Tidak hanya itu, kegiatan ini juga melibatkan Louis Plottel, mahasiswa doktoral dari University of Toronto, Kanada, yang tengah meneliti penyalahgunaan narkoba di Aceh.

“Saya melihat komitmen masyarakat untuk berubah sangat besar. Program ini relevan untuk mencegah generasi muda kembali ke ganja,” kata Louis.

Dr Lukman menambahkan bahwa program ini dilatarbelakangi banyaknya kasus penemuan ladang ganja di Kecamatan Sawang.

“Pada 2020, BNN memusnahkan sekitar 20 ribu batang ganja setara 6 ton di Dusun Alue Ie Mudek. Tahun 2023, kembali ditemukan 40 ribu batang ganja di Dusun Alue Garot, dan hingga 2024 pemusnahan masih terus terjadi di Teupin Reusep,” sebutnya.

Melihat kenyataan itu, tim berinisiatif merancang terobosan alternatif. “Kami ingin masyarakat tidak lagi mengulangi kesalahan lama. Produksi gaharu bisa menjadi jangka menengah yang lebih realistis, karena harga gaharu di pasar internasional juga sangat tinggi,” jelas Lukman.

Ia menekankan bahwa ganja membawa banyak mudarat. “Menanam ganja membuat hidup tidak tenang, selalu diburu aparat, berisiko penjara bahkan hukuman mati. Hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan risiko yang ditanggung,” tegasnya.

Sebaliknya, usaha gaharu dianggap lebih menguntungkan dan menenangkan. “Dengan gaharu, petani bisa hidup damai bersama keluarga dan tetangga, tanpa rasa takut. Ini pilihan yang jauh lebih bijak,” kata Lukman.

Secara medis, Lukman yang merupakan alumni IPB menegaskan bahaya ganja. “Zat psikoaktif THC dalam ganja dapat mengganggu fungsi otak, menimbulkan kecanduan, serta meningkatkan risiko gangguan mental. Secara hukum, ganja juga termasuk narkotika golongan I sesuai UU Nomor 35 Tahun 2009,” paparnya.

Sementara dari sisi ekonomi, gaharu dinilai lebih potensial. “Harga ganja dunia tahun 2025 sekitar Rp5 juta per kilogram. Sementara harga gaharu bisa mencapai Rp50 juta per kilogram, bahkan minyak gaharu mencapai Rp200 juta per liter. Jadi, dari sisi finansial pun gaharu lebih menguntungkan,” jelasnya.

Dengan lahirnya slogan “Ganja vs Gaharu”, masyarakat Teupin Reusep diharapkan dapat menentukan pilihan hidup yang lebih sehat, bermartabat, dan berkelanjutan.

“Kami ingin desa ini dikenal bukan lagi sebagai penghasil ganja, tapi sebagai pusat produksi gaharu terbaik di Aceh,” tutup Lukman.(ds)

Berita Terkait