Kasus TBC di Aceh Terus Naik, Warga Diminta Waspada

Minggu, 27 November 2022 22:08
Ilustrasi rontgen paru-paru. (Foto: Shutterstock)

BANDA ACEH – Dinas Kesehatan Aceh meminta masyarakat mewaspadai penyebaran penyakit Tuberkulosis (TBC) yang telah mencapai ribuan kasus di Provinsi Aceh.

“Hingga triwulan ketiga kemarin, yaitu September 2022, sudah mencapai 6.900 kasus TBC di Aceh, ini sudah lumayan tinggi,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh Iman Murahman, Sabtu (27/11/2022).

Iman menjelaskan sebelumnya kasus TBC di Aceh bisa mencapai antara 7.000 – 7.500 kasus per tahun. Sebab itu, pihaknya memperkirakan kasus TBC bisa mencapai 8.000 kasus hingga akhir tahun.

Daerah paling banyak ditemukan kasus TBC seperti Kabupaten Pidie, Bireuen bahkan ibukota Banda Aceh. Saat ini, sebanyak 49 unit alat tes cepat molekuler untuk TBC sudah tersedia di rumah sakit umum daerah hingga Puskesmas.

“Satu minggu sekali pasti ada kasus TBC pada anak. Jadi penularan TBC di Aceh cukup tinggi. Penanganan kita lakukan terapi pencegahan tuberkulosis, kalau satu positif TBC maka keluarga lainnya juga harus minum obat,” ujar Iman.

Hingga saat ini, lanjut dia, petugas kesehatan di rumah sakit umum daerah dan Puskesmas terus mencari kasus-kasus TBC. Masyarakat juga diminta untuk lebih sadar bahwa kuman TBC sangat berbahaya.

“Kasus ini di Aceh tidak selesai-selesai, karena masyarakat kita ini kalau enggak sakit tidak periksa, padahal kuman TBC sudah ada. Efek paling berat TBC ini meninggal dunia,” ujarnya.

Selain itu, Dinas Kesehatan Aceh juga mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan campak. Akhir-akhir ini, ruang anak di rumah sakit umum rujukan daerah dipenuhi pasien anak yang umumnya menderita DBD dan campak.

“Kasus DBD sampai Oktober 2022 kemarin sekitar 1.200 kasus. Bahkan di Banda Aceh sudah empat kasus kematian, Bireuen dua kasus kematian, di Aceh Selatan satu kematian, dan itu rata-rata anak-anak,” ujarnya.

Sedangkan kasus campak, kata Iman, hingga Oktober 2022 lalu sudah hampir mencapai 2.000 kasus. Angka itu merupakan kasus yang tercatat, belum lagi kasus yang tidak tercatat karena tidak masuk rumah sakit, tetapi di rumah saja.

“Campak ini juga harus ditakutkan, karena begitu terkena komplikasi (penyakit) maka akan radang paru-paru dan diare berat dan ini banyak kasus di RSUD Zainoel Abidin,” ujarnya.[*]

Sumber: Antara

Komentar

Berita Terkait