Webinar Internasional Soroti Kemiripan Ketangguhan Spiritual Masyarakat Aceh dan Iran
Selasa, 16 Juni 2026 16:36
BANDA ACEH — Kurator Museum Tsunami Aceh, Cut Intan Damayanti, diundang sebagai panelis utama dalam webinar internasional bertajuk “Museum Centered Cultural Dialogues”, Selasa (13/6/2026). Dalam forum ilmiah yang mempertemukan para pakar permuseuman global tersebut, Cut Intan memaparkan presentasi berjudul “Preserving Memories and Inspiring Future” (Melestarikan Kenangan Masa Lalu dan Menginspirasi Kehidupan Masa Depan).
Forum yang disponsori penuh oleh Pemerintah Republik Islam Iran ini bertujuan memperkuat pemahaman bersama antarbangsa, mempromosikan dialog kebudayaan inklusif, serta melacak kembali ikatan sejarah peradaban Timur antara Indonesia dan Iran. Bagi Aceh, forum ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan standardisasi tata kelola trauma kolektif menjadi instrumen edukasi mitigasi bencana yang berkelanjutan.
Pertemuan daring ini merupakan tindak lanjut konkret dari kunjungan resmi Penasihat Kebudayaan (Cultural Counsellor) Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Dr. Yahya Jahangiri, ke Aceh beberapa waktu lalu. Dalam rangkaian kunjungan sebelumnya, pihak Kedubes Iran juga sempat menggelar pemutaran film dokumenter “Khodaye Jang” (God of War), yang mengisahkan proses pemulihan (healing process) masyarakat Iran pasca-Perang Iran-Irak.
Karakteristik masyarakat Iran dalam menghadapi destruksi perang tersebut dinilai memiliki kemiripan sosiologis dengan masyarakat Aceh. Kedua wilayah dinilai memiliki ketangguhan spiritual yang sama saat bangkit dari kelumpuhan total, baik akibat konflik sosial masa lalu maupun bencana gempa bumi dan tsunami dahsyat pada 2004 silam.
Dalam narasinya, Cut Intan Damayanti menekankan bahwa fungsi museum di abad ke-21 telah mengalami pergeseran radikal. Institusi museum tidak lagi sekadar menjadi tempat penyimpanan statis untuk benda-benda purbakala, melainkan harus bertransformasi menjadi ruang hidup (living museum).
“Museum harus mampu merawat ingatan atas tragedi masa lalu, baik karena perang, konflik, maupun bencana alam, kemudian mengubah memori tersebut menjadi energi positif serta inspirasi untuk membangun kehidupan yang lebih aman dan tangguh di masa depan,” kata Cut Intan.
Sinergi diplomasi kebudayaan ini diproyeksikan tidak berhenti pada pelaksanaan webinar semata. Ke depan, kerja sama bilateral antara kedua pihak diarahkan pada program yang lebih luas, meliputi pertukaran program kuratorial, riset bersama mengenai arsip sejarah Timur, hingga kolaborasi pameran bersama antara Museum Tsunami Aceh dengan museum-museum terkemuka di Iran.



