Museum Tsunami Aceh Gelar Pameran Kebencanaan Temporer Sepanjang Mei 2026
Rabu, 06 Mei 2026 21:28
BANDA ACEH – Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Museum Tsunami Aceh akan menyelenggarakan pameran kebencanaan temporer sepanjang bulan Mei 2026. Agenda ini diproyeksikan sebagai pusat edukasi dan mitigasi bencana bagi wisatawan yang diprediksi akan melonjak selama masa libur panjang Iduladha 1447 Hijriah.
Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M Syahputra Azwar, menyatakan bahwa pemilihan momentum tersebut bertujuan memberikan pengalaman kunjungan yang edukatif di tengah potensi arus kunjungan tinggi. Berdasarkan data periode Idulfitri 1447 H sebelumnya, museum ini berhasil menarik lebih dari 13.000 wisatawan hanya dalam dua hari libur raya.
“Kami ingin menjadikan momentum Iduladha 1447 H sebagai ruang refleksi. Museum bukan sekadar destinasi foto, tetapi sarana meningkatkan literasi kebencanaan agar masyarakat lebih tangguh,” ujar Syahputra di Banda Aceh, Rabu, 6 Mei 2026.
Pameran kali ini akan mengedepankan konten modern dengan fokus pada transformasi digital dan interaktivitas. Beberapa fitur utama yang disiapkan meliputi simulasi mitigasi bencana berbasis teknologi, pembaruan prosedur keselamatan terkini, serta konten digital yang dirancang untuk menarik minat generasi muda.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Dedy Yuswadi, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif tersebut. Menurutnya, inovasi melalui pameran temporer sangat krusial guna menjaga relevansi museum dan memberikan pembaruan informasi bagi pengunjung rutin agar tidak terjadi kejenuhan informasi.
Sebagai langkah persiapan, pengelola museum saat ini tengah melakukan penguatan kapasitas personel lapangan, pemeliharaan fasilitas gedung secara menyeluruh, serta koordinasi teknis lintas sektor. Hal ini dilakukan untuk menjamin keamanan dan kenyamanan pengunjung, mengingat museum ini telah menjadi ikon edukasi kebencanaan di tingkat global.
Museum Tsunami Aceh sendiri merupakan hasil rancangan arsitek Ridwan Kamil yang didirikan sebagai monumen peringatan sekaligus pusat evakuasi.
Berbagai studi menunjukkan bahwa museum bencana memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik terhadap risiko kebencanaan. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Disaster Risk Studies menemukan bahwa museum bencana berfungsi sebagai media pembentuk “memori kolektif” (collective memory) masyarakat.
Konsep ini merujuk pada cara komunitas mengingat, merekonstruksi, dan mewariskan pengalaman traumatis lintas generasi agar kewaspadaan terhadap bencana tetap terjaga.
Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa pendekatan naratif dan visual dalam museum bencana mampu memperkuat resiliensi komunitas (community resilience), yaitu kemampuan masyarakat untuk bertahan, beradaptasi, dan pulih dari dampak bencana.[]



